Jakarta,
Saat Anda jalan-jalan ke pusat perbelanjaan atau tempat-tempat umum lainnya,
tak sulit menemukan orang yang kelebihan berat badan. Bahkan makin hari
tampaknya makin banyak saja orang yang mengalaminya, tak peduli berapapun
usianya. Padahal dampaknya terhadap kesehatan tak dapat diremehkan.
Yang
paling mengejutkan, obesitas tak hanya mempengaruhi ukuran baju maupun risiko
penyakit, tapi juga hubungan antarkeluarga hingga pendapatan. Berikut tujuh
'efek samping' obesitas terhadap kehidupan seseorang seperti dilansir ABC News,
Selasa (17/9/2013).
1.
Lebih sering migrain
Setelah
tim peneliti Johns Hopkins mensurvei 4.000 orang, ditemukan fakta bahwa semakin
tinggi indeks massa tubuh seseorang, semakin besar peluang mereka untuk
mengidap migrain episodik.
Mereka
yang obesitas pun berpeluang 81 persen lebih besar untuk mengalami sedikitnya
14 kali migrain setiap bulannya dibandingkan orang-orang yang berat badannya
sehat. Bahkan wanita obes berusia 50 tahun ke atas tercatat yang paling sering
mengalami sakit kepala kronis tersebut.
2.
Lebih gampang kena kanker
Mengapa
orang-orang yang memiliki lemak tubuh lebih banyak identik dengan risiko kanker
yang tinggi? "Bisa jadi karena kelebihan sel-sel lemak tersebut dapat
meningkatkan aktivitas hormon atau menambah faktor yang mengakibatkan
pertumbuhan tumor," tandas Dr. Raul Seballos dari Cleveland Clinic.
Seballos
juga menambahkan jika orang-orang obes berisiko lebih tinggi terkena segala
jenis kanker, termasuk lebih lambat didiagnosis (ketika stadiumnya sudah
tinggi) dibandingkan orang yang lebih kurus dan lebih sering meninggal
karenanya.
3.
Makin mandul
Wanita
yang kelebihan berat badan lebih sulit untuk hamil ketimbang yang berat
badannya ideal. Bahkan sebuah studi dari India terhadap 300 wanita obes
menemukan dalam kurun tiga tahun studi, lebih dari 90 persen partisipan
mengidap polycystic ovarian disease, salah satu penyakit yang berkaitan dengan
kemandulan.
"Obesitas
sendiri merupakan akibat dari peradangan dan itu saja sudah menurunkan tingkat
kesuburan. Ini juga bisa terjadi sebagai akibat dari perubahan hormon yang
dihasilkan oleh jaringan lemak," ungkap Dr. Marc Bessler, Direktur Center
for Weight Loss and Metabolic Surgery, New York Presbyterian Hospital, Columbia
University Medical Center.
Bessler
membuktikan sendiri, banyak pasiennya yang kelebihan berat badan sulit untuk
bisa hamil. Kendati begitu, beberapa pasiennya akhirnya bisa mengandung
beberapa bulan setelah menjalani operasi penurunan berat badan.
4.
Dihantui risiko bayi lahir prematur
Risiko
yang dialami wanita obes bukan saja susah hamil, tapi sekalinya bisa
mengandung, bayi mereka berisiko lahir prematur, apalagi jika indeks massa
tubuhnya di atas 35. Peneliti pun menduga terlalu banyak lemak dapat
menyebabkan peradangan dan melemahkan rahim serta membran serviks.
Padahal
kelahiran prematur sangat identik dengan kematian bayi dan cacat seumur hidup
pada anak.
5.
Kurang tidur
Kurang
tidur berkontribusi terhadap berbagai penyakit, di antaranya diabetes, penyakit
jantung dan obesitas. Sudah tak terbilang banyaknya studi yang mengaitkan
antara jam tidur yang pendek dengan pelebaran lingkar pinggang. Salah satunya
dari Harvard Nurses Study yang menemukan mereka yang tidur kurang dari lima jam
saja setiap malamnya berisiko 15 persen lebih tinggi mengalami penambahan berat
badan dibandingkan yang bisa tidur minimal tujuh jam semalam.
Menurut
seorang pakar nutrisi dan preventive medicine, Dr. Donald Hensrud, salah satu
bahaya terbesar yang mengintai orang obes adalah sleep apnea atau kondisi
dimana seseorang tiba-tiba berhenti bernapas saat tidur.
"Sleep
apnea dapat disebabkan oleh peningkatan lemak di seputar leher yang menekan dan
menutup jaringan lunak pada saluran udaranya ketika seseorang sedang tertidur,
terutama jika tidurnya telentang," terang Hensrud.
Akibatnya
orang yang mengalami sleep apnea tidak memiliki tidur yang berkualitas serta
kekurangan oksigen dalam pembuluh darahnya sehingga jantungnya harus bekerja
ekstra.
6.
Di-bully orang-orang tercinta
Sebuah
studi dari Yale mengungkap berat badan adalah alasan utama orang-orang
mengalami bullying, di usia berapapun. Dan mereka yang menjadi korban bullying
memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, depresi yang tinggi serta sangat
berisiko mengalami bunuh diri.
Anehnya,
sebagian besar korban bullying mengaku mengalami pelecehan dari keluarganya
sendiri. "Lebih dari 40 persen anak yang berupaya menurunkan berat
badannya mengaku telah di-bully atau diganggu oleh salah seorang anggota
keluarganya," ungkap ketua tim peneliti, Rebecca Puhl.
"Ketika
kami tanyakan pada wanita yang obes, 72 persen dari mereka juga mengaku yang
sering menstigmatisasi mereka adalah anggota keluarganya," tambahnya.
7.
Kesenjangan perlakuan medis
Rebecca
Puhl dan rekan-rekannya juga menemukan 67 persen pria dan wanita yang kelebihan
berat badan mengaku kerap dipermalukan atau di-bully di ruang praktik dokternya
sendiri.
Faktanya,
50 persen dokter diketahui menganggap pasiennya yang gemuk itu 'kikuk, buruk
rupa, berkemauan lemah, dan jarang mematuhi prosedur pengobatan'. Tak hanya
itu, 24 persen perawat pun mengaku jijik ketika menghadapi pasien obes.
Uniknya,
di sisi lain Puhl menemukan hal serupa bahwasanya pasien cenderung malas
mengikuti perintah dokter dan lebih sering mengganti dokternya jika dokternya
yang sekarang mengalami kelebihan berat badan.
8.
Pendapatan rendah
Kaitan
antara obesitas dengan pendapatan dikemukakan oleh sebuah studi dari George
Washington University School of Public Health. Berdasarkan data National
Longitudinal Survey of Youth 2004, pendapatan wanita obes 8.666 dollar AS dan
pria obes 4.772 dollar AS lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang lebih
langsing.
Sebaliknya,
wanita yang langsing jelas memiliki pendapatan yang lebih besar daripada yang
gemuk. Studi dari University of Florida telah memastikan hal ini. Wanita yang
berat badannya 11.3 kg lebih rendah daripada berat badan rata-rata memiliki
penghasilan 15.572 dollar AS lebih tinggi dalam setahun, dibandingkan wanita
dengan berat badan normal.
Sedangkan
wanita yang berat badannya 11.3 kg lebih banyak daripada berat badan rata-rata
memiliki penghasilan 13.847 lebih rendah dalam setahun dibandingkan wanita
dengan berat badan normal. Namun kondisi serupa tak ditemukan pada pria.
Sumber :







0 komentar:
Posting Komentar